AIIMNEWS.COM – Aksi demonstrasi yang digelar oleh sejumlah mahasiswa dan elemen masyarakat di depan kantor bupati Gorontalo nyaris ricuh, Kamis (15/5/2025).
Hal itu dipicu karena Bupati Gorontalo diduga memilih meninggalkan massa aksi saat tengah menyampaikan orasi kritis mereka.
Insiden itu terjadi ketika massa aksi menuntut janji Bupati Sofyan Puhi terkait pembangunan jembatan yang ada di Desa Pulubala, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo.
Namun, alih-alih menemui pengunjuk rasa, Bupati justru terlihat melenggang balik kanan dari area depan kantor Bupati Gorontalo menuju masuk ke dalam kantor.
Salah satu massa aksi sekaligus orator dalam aksi tersebut, Nafik Gobel menyebut tindakan bupati sebagai bentuk anti kritik dan tidak menghargai aspirasi rakyat.
“Kami datang dengan damai, menyampaikan tuntutan. Tapi sayangnya, pemimpin daerah malah lari dari tanggung jawab mendengarkan,” ujar koordinator lapangan.
Massa menyuarakan bahwa pejabat publik seharusnya terbuka terhadap kritik dan tidak alergi terhadap kontrol sosial dari masyarakat.
“Saat itu sudah mau menandatangani petisi yang kami buat. Bupati langsung pergi meninggalkan massa aksi,” ujarnya.
“Tadinya tidak mau ditandatangani. Nanti setelah menghilangkan satu poin yang ada dalam petisi baru kemudian ditandatangani,” tandas Nafik Gobel.
(ha/aiim)





