Oleh: Erlin Adam, Presiden BEM, Universitas Gorontalo
AIIMNEWS.COM/Opini – Ketika seluruh daerah di Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-97 dengan penuh semangat nasionalisme, Kabupaten Gorontalo justru memilih diam. Tidak ada upacara, tidak ada penghormatan, dan tidak ada simbol yang mengingatkan kita pada sumpah bersejarah 28 Oktober 1928.
Diamnya pemerintah daerah ini menjadi tanda tanya besar ke mana arah kesadaran nasionalisme birokrasi hari ini ataukah Pemerintah Daerah sedang dalam kebimbangan atau pula sudah hilang atau runtuh terhadap rasa nasionalisme tersebut?
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gorontalo, Erlin Adam, menilai absennya pelaksanaan upacara tersebut bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan indikasi serius melemahnya kesadaran sejarah dan nasionalisme di tingkat lokal.
“Ketiadaan upacara ini memperlihatkan betapa lemahnya semangat kebangsaan di daerah. Sumpah Pemuda bukan seremoni tahunan, tetapi tonggak historis yang menandai kesadaran kolektif bangsa. Ketika itu diabaikan, berarti kita sedang kehilangan jiwa nasionalisme,” tegas Erlin Adam, Selasa (28/10/2025).
Secara historis, Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah puncak dari proses panjang kesadaran kolektif bangsa Indonesia. Para pemuda kala itu melampaui sekat etnis, agama, dan kedaerahan untuk menyatakan satu tekad: satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.
Dalam perspektif ilmiah, seperti dijelaskan sejarawan Sartono Kartodirdjo (1987), Sumpah Pemuda adalah bentuk kesadaran sosial yang rasional terhadap penderitaan kolonialisme dan cita-cita kemerdekaan. Ia bukan hanya teks sejarah, tetapi manifesto moral bangsa.
“Ketika simbol kebangsaan seperti Sumpah Pemuda tidak lagi diperingati, maka pemerintah daerah sedang kehilangan kemampuan membangun ingatan kolektif padahal bangsa hidup dari ingatan dan nilai-nilai sejarahnya,” tutur Erlin.
Erlin Adam menilai kegagalan Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gorontalo dalam menyelenggarakan upacara Sumpah Pemuda mencerminkan krisis etos nasionalisme dan tanggung jawab moral terhadap sejarah bangsa.
Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab membangun karakter dan semangat kebangsaan pemuda melalui kegiatan yang edukatif dan historis.
“Kegagalan ini bukan hanya soal administrasi, tapi soal ideologi. Pemerintah daerah tidak cukup hanya bicara pembangunan ekonomi, tapi juga harus menanamkan nasionalisme. Sebab bangsa tanpa nilai hanyalah kumpulan manusia tanpa arah,” tegasnya.
Dalam kacamata sosiologi politik, peristiwa ini memperlihatkan melemahnya integrasi simbolik antara negara dan warganya. Teori Imagined Communities yang dikemukakan Benedict Anderson (1983) menjelaskan bahwa bangsa hanya ada sejauh ia dibayangkan bersama melalui simbol dan ritual kebangsaan. Upacara Sumpah Pemuda adalah salah satu ritual itu.
“Ketika ritual kebangsaan ditinggalkan, maka imajinasi kolektif tentang Indonesia ikut melemah. Ini bukan sekadar lupa menggelar upacara, tetapi bentuk dislokasi ideologis di mana birokrasi tak lagi sadar akan akar sejarahnya,” ujar Erlin dengan nada kritis.
Dalam analisis akademis, nasionalisme bukanlah warisan yang otomatis melekat, melainkan hasil dari pendidikan, kesadaran, dan tindakan berulang. Sumpah Pemuda adalah laboratorium sejarah yang mengajarkan tentang identitas, tanggung jawab, dan solidaritas nasional.
“Bangsa ini tidak akan maju jika kehilangan rasa malu terhadap sejarahnya sendiri. Pemerintah daerah seharusnya menjadi garda depan membangun kesadaran nasionalisme, bukan justru menjadi pihak yang lalai menghidupkannya,” ujar Erlin.
Ia menambahkan bahwa BEM Universitas Gorontalo akan terus mengingatkan pemerintah agar tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan nilai dan karakter kebangsaan.
Absennya peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kabupaten Gorontalo harus dibaca sebagai gejala krisis simbolik nasionalisme lokal. Pemerintah daerah perlu memahami bahwa memperingati sejarah bukan rutinitas, melainkan tindakan politik kebudayaan bagian dari menjaga kesinambungan antara masa lalu, kini, dan masa depan bangsa.



